26/03/2023
Bilangan raka'at shalat lail.
Mengenai bilangan raka'at shalat lail di bulan Ramadan (shalat tarawih) Imam syaukani menjelaskan dlm Nailul author, juz' III, halaman 63-64 sebagai berikut katanya :
"Dengan 23 raka'at menurut Ibnu Ishaq : "Inilah yang paling tsabit menurut yang saya dengar”. Tetapi diragukan dalam FIl DLAU- IN NAHAAR, -maka katanya di dalam sanadnya terdapat Abu Syaibah, padahal tidak demikian, makanya Malik menyebut dalam AL MUWATHTHA' , " bagaimana. yang disebutkan oleh pengarang. Dan hadits yang di dalam riwayatnya terdapat Abu Syaibah itu adalah hadits Ibnu ' Abbas yang aka, datang,. sebagaimana tersebut dalam AL BADRU MUNIIR. Di dalam AT TALKHIISH dan AL MUWATHTHA: juga dari Muhammad bin Yusuf dari Saa-ib bin Yazid, bahwa shalat tarawih itu adalah sebelas raka' at.
Dan diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dari Muhammad bin Yusuf bahwa shalat tarawih itu 20 raka' at. Juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dari jalan ' Atha', katanya : "Saya menjumpai mereka pada bulan 'Ramadlan shalat 20 raka'at
(tahajjud) dan 3 rraka' at witir. .
Berkata Al Hafizh : “Menghimpun semua riwayat ini adalah mungkin menurut perbedaan keadaan dan peristiwa. Dan boleh jadi perbedaan itu karena perbedaan panjang atau pendeknya bacaan. Maka jika bacaannya panjang, berkuranglah jumlah raka' atnya dan sebaliknya”.
Demikian juga penegasan Ad Daudiy dan yang lain: lain. Ujarnya bahwa perbedaan tentang jumlah raka/ at yang lebih di atas dua puluh, sama dengan perbedaan dalam shalat witir. Maka kadang-kadang
beliau (Nabi s.a.w.) witir dengan satu raka' at, dan kadang-kadang dengan tiga raka' at.. Diriwayatkan juga oleh Muhammad bin Nastr, dari jalan Daud bin Qais, katanya saya menjumpai manusia dalam pemerintahan. Abban bin ' Utsma'
dan ' Umar bin Abdul ' Aziz, yakni di Madinah shalat lail dengan 36 raka'at dan witir dengan 3 raka' at.
Dan berkata Malik : “Di kalangan kami shalat Lail dengan 39 raka' at dan di Makkah dengan 23 raka' at - dan tidak ada kes**aran”.
Menurut Turmudzi, yang terbanyak yang pernah dikatakan "orang, ialah shalat Lail itu dengan 41 raka' at dengan raka' at witir.
Dinukilkan oleh Ibnu Abdul Bar dari Aswad bin Yazid 40 raka' at, witir dengan 7.raka' at.
Juga ada dikatakan 38 raka' at, demikian disebutkan oleh Muhammad bin Nashr dari Ibnu Yunus dan Malik.
Berkata Al Hafizh, ini mungkin dengan menambahkan 3 raka'at witir, tetapi ia menjelaskan dalam riwayatnya, bahwa witir 1 raka'at, maka jadilah 4Okurang raka'at (39 raka' at). Berkata Malik, demikianlah diamalkan semenjak lebih dari seratus tahun.
Dan diriwayatkan dari Malik 46 raka' at dengan witir. Berkata Al Hafizh dalam . AL FATHU, yang masyhur dari Malik.
Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari 'Umriy dari Nafi", katanya : "Tidak saya jumpai manusia kecuali mereka shalat Lail 39 raka' at dan berwitir 3 raka' at daripadanya.
Dari Zararah bin Abi Aufa, bahwa ia shalat dengan - mereka di Bashrah 34 raka' at dan witir. Dari Sa' id bin Jubair 24 raka' at, dan dikatakan juga 16 raka' at selain Witir. ” Inilah kesimp**an yang diSebutkan dalam kitab FATHUL BARI mengenai perbedaan jumlah raka'at ini. Sesudah menuliskan dan mengutip tentang perbedaan jumlah 'raka'at tarawih ini, maka Imam Syaukani menegaskan : "Adapun yang tsabit dari Rasulullah s.a.w. tentang bilangan raka'at ini,
dikeluarkan oleh Bukhari dan lain-lain dari '
Aisyah, katanya :
"Maa Kaanan Nabiyyu s.a.w. yaziidu fii ramadiaana wa laa fii ghairihi “alaa ihdaa "“asyarata rak 'atan, "Tidak pernah Nabi s.a.w. melebihkan di dalam Ramadlan atau di luar Ramadlan atas.. sebelas raka' at”. . Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam
shahihnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi saw . Shalaa bihim tsamaana raka aatin tsumma autara.
"Nabi shalat bersama mereka 8 raka'" at, kemudian ia witir”. Juga disinggung hadits riwayat Baihaqi yang menyatakan shalat dengan 20.raka' at, tambah witir. Tetapi ditegaskan oleh Salim bin: Ar: Razi : dalam AT TARGHIIBU : Wayuutiru bi tsalaatsin (dan ber“witir dengan 3'raka' at). Kata Baihaqi, ini diriwayat kan sendirian oleh: Abu Syaibah,: Ibrahim bin 'Utsman, dan diaadalah dla'if.
Dari sekian banyak riwayat yang telah diungkap kan di.atas, maka satu-satunya yang tidak diragukan 'tsabitnya dari Rasulullah s:a.w. dan yang tidak ada perbedaan pendapat.padanya, ialah shalat tarawih dengan 11 raka'at.. |
Selanjutnya Imam Shan'ani' dalam SUBULUS “'SALAAM, juzu' II, halaman 10 - 11, sesudah me ngemukakan - beberapa riwayat “tentang - shalat -tarawih 23 raka' at, menjelaskan :
"Bila anda telah mengetahui ini: tahulah anda bahwa shalat tarawih dengan 20 raka'at (ditambah dengan witir) tidak memsunyai riwayat yang marfu" (yang diangkat) sampai kepada Nabi” “s.a.w.
Bahkan ada hadits dari 'Aisyah yang MUTTAFAQ'ALAIHI : , Annahu s.a.w. maa kaana yaziidu fii ramadlaana wa laa fii ghairihi "alaa ihdaa 'asyarata rak 'atan.
"Bahwa Nabi s.a.w. tidak pernah melebihkan di dalam Ramadian atau” di luar Ramadian di atas sebelas raka' at”. -,
Tahulah anda bahwa shalat tarawih dengan cara seperti yang telah disepakati oleh kebanyakan orang. adalah bid'ah. Benar qiyamu ramadlan itu sunnah, tidak ada perbedaan pendapat dan menjama' ahkannya tidak dibantah lagi. Sesungguhnya Ibnu ' Abbas - dan yang lain-lain pernah berimam kepada Rasulullah s.a.w. dalam shalat Lail. Tetapi mendirikannya dengan cara (kaifiyat) dan jumlah raka'at (kammiyah) sebagai sunnah, memelihara cara yang demikian terus menerus itulah yang kami katakan bid'ah. ' Dan ini 'Umar r.a. pada mulanya keluar sedang manusia berkelompok-kelompok. Sebagian shalat sendirian dan sebagian lagi shalat berjama ah Seperti pada masa Rasulullah s.a.w.
Imam Shan'ani akhirnya menegaskan : "Yang terbaik ialah seperti pada masa Rasulullah s.a.w.' Maksudnya.shalat Lail 11 raka' at, boleh dikerjakan berjama' ah dan boleh sendirian.
Di'samping itu ada baiknya diikuti sebagai bahan Orientasi tulisan Prof. T. M. Hasbi Ash Shiddieay dalam KOLEKSI HADITS-HADITS HUKUM, Jilid 5, halaman 108-110 sebagai berikut : Bilangan raka'at tarawih.
Mengenai bilangan raka'at, maka tidak ada sesuatu jalan yang kuat yang menerangkan kisah ' Umar dalam masalah tarawih ini yang Menentukan bahwasanya 'Umar menyuruh Ubay bin ka'ab. mengerjakan sembahyang tarawih itu dengan bilangan yang tertentu, sebagai yang disangka «| ' banyakan orang, yaitu ' Umar menyuruh Ubay bin, Ka'ab “mengerjakannya sebanyak 20 rakat Muhammad bin Nashr Al Marwazi berkata : Hadits, Jabir menerangkan bahwasanya Nabi s.a.w. ber. sembahyang dalam bulan Ramadian pada suatu, malam 8 raka' at, kemudian beliau berwitir.
Dari As Sa-ib Ibnu Yazid diterima riwayat bahwa ' Umar Ibnu Al Khaththab menyuruh Uba bin Ka. "ab dan Tamim Ad Daariy mengerjakan 11 raka'&. Dalam suatu riwayat beliau-beliau itu berkata : "Kami bersembahyang dizaman ' Umar dalam bulan Ramadian 13 raka' at”. Akan tetapi demi Allah, kami tidak selesai-dari shalat, melainkan di dekat waktu Shubuh. Imam membaca dalam tiap-tiap raka'at 50 dan 60-ayat.
Muhammad Ibnu .Ka'ab Al Kuradhy berkata :. "Para jama'ah bersembahyang dizaman ' Umar dalam bulan Ramadlan 20 raka'at. Mereka memanjangkan qira-ah dan mereka berwitir sebanyak 3 raka' at. Ibnu Ishaq berkata : "Tidaklah saya dengar tentang ketentuan bilangan raka' at sesudah hadits yang kupandang lebih tsabit selain dari hadits As Saib, yaitu Rasulullah s.a.w. bersembahyang 13 raka'at. '
Muhammad Ibnu Nashr berkata p**a : Berkatalah Ibnul Oashim : “Saya mendengar Malik: dikala orang bertanya kepadanya tentang qiyaamu ramadlan, berkata : "39 raka'at dengan witir”. Ibnu Aiman berkata : "Berkatalah Malik : Saya s**apara jama' ah berdiri dibulan Ramadlan dengan tigapuluh delapan raka'at. Sesudah itu berwitir seraka' at. Demikian amal yang berlaku di Madinah sebelum kejadian (peristiwa) Al Harrah, semenjak seratus tahun lebih.
Ishaq Ibnu Manshur berkata : Saya bertanya kepada Ahmad tetang raka' at yang harus kita kerjakan dalam mengerjakan sembahyang malam (tarawih) dibulan Ramadian. Ahmad menjawab : Dalam masalah ini ada 40 macam pendapat. Sembahyang itu adalah sembahyang tathawwu' . Ishaq berkata :
"Kami mengambil 40 raka'at dan meringankan : bacaan” . Diriwayatkan oleh Al Hasan Az Zirafani dari golongan Asy Syafi'iy, bahwa beliau melihat
para jama'ah mengerjakan: Sembahyang tarawih di Madinah sebanyak 39 raka' at. Dalam pada itu saya lebih s**a "mengerjakannya sebanyak20 raka' at. Penduduk Makkah mengerjakan sebanyak itu. Asy Syafi'iy berkata dalam bab ini : Kita boleh mengambil mana saja yang kita s**ai, tak ada suatu batas yang tetap, karena sembahyang malam. itu adalah sembahyang sunnat. Maka jika jama'ah ' melamakan berdiri dan mensedikitkan sujud (raka'at), niscaya ku pandang baik. Inilah yang lebih kus**ai. Dan jika membanyakkan sujud dan ruku', niscaya aku membenarkan juga.
Ringkasnya tak ada suatu hadits marfu'. yang menetapkan 20 raka' at, selain daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abdu Ibnu Humaid dan Ath Thabaraniy dari jalan Abu Syaibah, Ibrahim Ibnu 'Utsman dari Al Hakam dari Muqassam dan Ibnu 'Abbas, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersembahyang dalam bulan Ramadian 20 raka'at.
Pengarang Subulur Rasyad menerangkan Bahwa Abu Syaibah ini, dilemahkan oleh Ahmad, Ibnu Mu' In, Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, At Turmudzi, An Nasa-i dan lain-lain. Syu' bah memandang Abu Syaibah seorang yang dusta. Ibnu Mu' In berkata : Abu Syaibah tidak kepercayaan dan , hadits ini (yang menerangkan 20 raka' at), Salah Sat hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Syaibah itu.
Al Azra'iy dalam kitab Al Mutaqash*th berkata riwayat yang menerangkan bahwasanya Nabi shalat dalam dua malam, yang pada malam. malam itu beliau keluar ke masjid, dari rumahnya,
sebanyak 20 raka'at adalah hadits yang mungkar, - Az Zarkasyi dalam kitab Al Khadim berkata . Mengatakan bahwasanya' Nabi shalat dimalam-malam itu 20 raka' at, Tidak dapat dibenarkan .
Hadits yang shahih hanya” menerangkan bahwasanya Nabi Saw shalat dimalam-malan itu dengan tida menyebut bilangan raka" at.
Maka mengerjakan shalat tarawih dalam bulan Ramadlan, adalah suatu sunnah, mengerjakannya dengan berjama' ah adalah suatu perbuatan yang tidak dapat -diingkari, karena berjama'ah dalam sembahyang sunnat dibenarkan oleh syara'. Namun demikian menetapkan bahwa sembahyang tarawih dengan bilangan yang -telah dibiasakan,
yaitu 20 'raka'at serta menetapkan bahwa yang demikian itulah sunnah yang harus dipelihara dan dikekalkan, itulah yg bid'ah.
Kita boleh mengerjakan tarawih dibulan Ramadlan dengan salah satu kaifiyat tahajjud dan witir yang Nabi s.a.w. telah kerjakan dan sebaik-baik nya janganlah bilangan raka' at sembahyang tarawih itu melampaui sebelas raka' at”.
Shalat Lai dengan 11 raka'at, dengan pelaksana an 4 +4+ 3 = 11 raka'at, Maksudnya anda shalat dahulu empat raka' at, duduk tahiyat di raka' at ke-empat dan bersalam. Kemudian anda shalat lagi empat raka'at, duduk tahiyat dan salam. Barulah kemudian anda mendirikan shalat : witir tiga raka' at dengan satu salam.
Ini didasarkan kepada hadits. dari "Aisyah r.a.