Kedai Sufi

Kedai Sufi Bersama menuju ma'rifat, silakan mampir ke gubuk kami, berbagi ilmu, istighotsah rutin tiap Sabtu malam, sambil ngopi atau sekedar obrolan ringan. Salam

"Kisah Mbah Shobib dan Nabi Khidir " Bismillah.. Saat itu, Mbah Shobib dhawuh kembali : “ Aku kuwi wong Jeporo sing ngaw...
13/07/2023

"Kisah Mbah Shobib dan Nabi Khidir "

Bismillah.. Saat itu, Mbah Shobib dhawuh kembali :
“ Aku kuwi wong Jeporo sing ngawiti nyantri nek Njoso Jombang. Sakdurunge aku, ora ono.”
(Saya itu orang Jepara yang pertama kali jadi santri di Rejoso, Jombang. Sebelum aku, tidak ada).

“ Aku mbiyen dadi santri ora pernah ngaji, mung saben dino diwenehi tugas Mbah Romly, menek wit klopo, njupuk klopone kanggo masak santri-santri.”
(Saya dulu jadi santri tidak pernah mengaji, hanya tiap hari diberi tugas Syaikh Romly, memanjat pohon kelapa, mengambil kelapanya untuk dimasak santri-santri).

Setelahnya, Beliau melanjutkan dhawuh :

“Sakwijining dino, pas aku menek wit klopo, nek ngisor wit ono wong tuwo, aku gageyan mudhun karo nggowo klopo. Terus tak takoni wong tuwo kuwi.”
( Suatu hari, saat saya memanjat pohon kelapa, di bawah pohon ada orang tua, saya cepat-cepat turun sambil bawa kelapa. Lalu saya bertanya ke orang tua tadi )

“Njenengan sinten ...? badhe perlu nopo ...?”
( Panjenengan siapa ...? Ada keperluan apa ...?

Wong tuwo mau njawab, “Klopomu tak jaluk kabeh.”
(Orang tua tadi menjawab, “Kelapamu tak minta semua.”)

Njur aku mangsuli, “Niki mboten klopo kulo, niki klopone Kyai kulo, Mbah Romly.”
(Lalu saya menyahut, “Ini bukan kelapa saya, ini kelapanya Kyai saya, Mbah Romly).

Wong tuwo mau ngomong maneh, “Wis, kowe muliho nek pondok, ngomong Mbah Romly nek klopone tak gowo kabeh.”
(Orang tua tadi bicara lagi, “Sudah, kamu pulang saja ke pondok, bicara ke Mbah Romly bahwa kelapanya tak ambil semua.”)

“Wong tuwo kuwi banjur nggowo klopo kabeh, pamitan ngajak salaman aku.”
“Anehe aku kok yo manut wae.”
(Orang tua tadi lalu membawa semua kelapa, berpamitan mengajak saya salaman).
(Anehnya, saya kok ya manut saja).

“Aku mbalik pondok ora karu-karuan, langsung sowan Mbah Romly arep crito.”
( Saya balik ke pondok tidak karu-karuan, langsung sowan Mbah Romly mau cerita).

“Bareng wis ngadep Mbah Romly, aku durung crito, Mbah Romly wis takon dhisik.”
(Saat sudah menghadap Mbah Romly, saya belum cerita, Mbah Romly sudah bertanya dulu).

“Mau ono sing njaluk klopo, Bib ...?”
(Tadi ada yang minta kelapa, Bib ...?)

“Nggih, Mbah.”
(Ya, Mbah)

“Kowe kenal sopo wong mau ...?”
(Kamu kenal siapa orang tadi ...?)

“Mboten ngertos, Mbah.”
(Tidak tahu, Mbah).

“Wong mau kuwi Nabi Khidir.”
(Orang tadi itu Nabi Khidir).

Lalu sambil menghela nafas panjang, Mbah Shobib melanjutkan dhawuh :

“Sakbanjure, tanganku sing salaman karo Nabi Khidir, seminggu gondo arume ora ilang-ilang.”
(Selanjutnya, tangan saya yang bersalaman dengan Nabi Khidir, seminggu bau harumnya tidak hilang-hilang).
...ماشاء الله.... ماشاء الله....

Allahumma sholli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala ali Sayyidina Muhammad..


Mbah Kyai Shobiburrahman Bin Mbah Kyai Anwar Jepara, Al Fatihah ..

17/04/2023

Semoga diijabah dan senantiasa dicintai Alloh

17/04/2023

Belajar dari Mangkunegara IV

15/04/2023

Man Robbuka?

15/04/2023
15/04/2023

Nasida Ria never die, grup qosidah legend NU yang mendunia.

15/04/2023

Endingnya ngakak, sebagai pengingat

09/06/2022

lelaku nyentrik


Di desa Dawuhan kota Blitar dulu pernah hidup seorang Kiai Nyeleneh yaitu Kiai Mu'id, yang oleh masyarakat setempat biasa dipanggil "Mbah Mungid". Sayang beliau tidak punya keturunan, Sisa-sisa peninggalan beliau saat ini tinggal mushola kecil dan pohon sawo tanaman beliau disisi kanan mushola didalam komplek SMKI kota Blitar.

Menurut cerita Juru Kunci makam umum Tanjungsari, Pada suatu malam Mbah Mungid mengajak santri-santri yang biasa tidur di masjid Dawuhan menonton pertunjukan wayang kulit. "Yuk melu ndelok wayang nek wetan kono" (ayo, ikut nonton wayang ke arah timur sana). Santri-santri langsung menyetujui ajakan Mbah Mungid tanpa bertanya "wetan kono" itu tepatnya dimana dan Desa apa. Lalu mereka pun berangkat ke arah Timur walaupun dengan berjalan kaki tidak dalam waktu yang lama akhirnya sampai pada tempat yang dituju.

Setelah membeli kacang goreng dan "opak sambel", mereka mencari tempat duduk yang strategis untuk menikmati pertunjukan wayang kulit sambil ngemil jajanan tadi, karena gayengnya menikmati tontonan sambil ngemil tidak terasa waktu sudah hampir subuh (kira-kira jam 3 dini hari). Waktu itu Mbah Mungid mengajak santri-santri yang ikut tadi pulang: "Yuk, mulih wes meh subuh"(Ayo pulang sudah mendekati subuh).

Mendengar ajakan itu semua langsung berdiri bersiap pulang kecuali satu orang (sebut saja Bejo). "Riyen, Mbah! Gadok garek kirang kedik mawon ditutukne sampe' bar pisan" (sebentar, Mbah! Kepalang tanggung kurang sedikit lagi wayangnya selesai).

Mendengar pintaan Bejo itu, Mbah Mungid langsung menyahut "Yo wes, lek kowe ngenteni bare, Iki tak sangoni engko nggonen numpak bis lek muleh" (ya sudah, kalo kamu menunggu sampai selesai, ini bekal uang untuk naik bis jika pulang nanti). Sejurus kemudian Mbah Mungid dan rombongan pulang kecuali si Bejo.

Setelah pertunjukan usai, Bejo ingin pulang tetapi dia bingung kemana jalan menuju arah Dawuhan Blitar. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada masyarakat setempat (sebut saja Pak Jarno) "Dalan jurusan Dawuhan niku pundi nggeh?"(Arah menuju Dawuhan itu kemana ya?). "Looh Dawuhan pundi tho mas? mriki mboten wonten Dusun Dawuhan" (Lho Dawuhan mana mas? Disini tidak ada Dusun Dawuhan), Pak Jarno balik bertanya. "Dawuhan Blitar, Pak" jawab Bejo. Sambil keheranan Pak Jarno menjawab "Looh tebih niku, Sampean niku sakniki teng Genteng Banyuwangi lho Mas"(Lho, Blitar itu jauh, sampean sekarang ini berada di Genteng Banyuwangi, lho Mas).

Betapa kagetnya Bejo mengetahui bahwa perjalanan yang tidak sampai satu jam bersama Mbah Mungid tadi malam itu ternyata perjalanan Blitar - Banyuwangi.

Kisah tutur di atas menunjukkan akan kekuasaan Gusti Allah melalui orang pilihan-Nya (Waliyullah) kepada hamba-hambanya yang awam tanpa mereka sadari. Mungkin sebagian orang akan berasumsi Mbah Mungid pelaku bid'ah, sesat, ndukun dll. Tapi bagi kalangan santri, kisah-kisah semacam itu sudah lazim terjadi, meskipun sulit dinalar dan tak masuk akal.

Orang-orang tempo doeloe atawa wong Jadul boleh jadi hanya bisa ngaji syi'iran Ngudi Susilo, tajwid Tanwirul Qori', Sekar Cempoko, syi'iran Pasholatan bab Banyu (yang sudah mulai hilang dari peredaran), Ngaqidatul Ngawam (Aqidatul Awam) atau Arbain Nawawi, bahkan paling banter Sullamul Munajat, Sullam Taufiq, Minahussaniyah, akan tetapi orang tempo doeloe memiliki keistimewan yang tidak dimiliki oleh generasi zaman now, yaitu menghafal, memahami, menghayati dan mengamalkannya.

Sejatinya, orang-orang tradisional memahami agama tidak hanya sebatas otak (IQ) saja tetapi juga penggalih (hati) atau ESQ dengan mendawamkan riyadoh laku tirakat, nutupi babahan hawa sanga (semacam kholwat, semedi, mengasingkan diri dengan ritual yang sulit dan berat), "sendika dawuh"/berbakti kepada guru.

Bagi mereka, ad-din alias agama bukan untuk diperdebatkan tetapi diyakini dan dilakoni. Agama tidak untuk menghukumi atau mengkafirkan orang lain tetapi untuk membedakan orang yang mendapat hidayah dan belum mendapatkannya. Tentu saja untuk mencapai tahapan itu, tidak cukup hanya belajar agama lewat terjemah, internet, buletin dll tanpa melalui guru yang solih-shohih sanad keilmuannya sampai kanjeng Nabi. Sesuai adagium "Wong kang weruh Sangkan paraning dumadi iku kang ma'rifat Allah"
Wallahu A'lam
(Oleh: Syamsul Hadi)
Mbah Bendot

Address

Jalan Kemuning 17B
Blitar
66134

Opening Hours

20:00 - 22:00

Telephone

085649931669

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kedai Sufi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Kedai Sufi:

Share