20/11/2020
Akal Dan Pikiran
Hewan mempunyai kebutuhan jasmani dan naluri, manusia juga demikian. Bedanya manusia diberi akal, sedangkan hewan tidak. Mengenai bukti-bukti bahwa manusia mempunyai akal, sedangkan hewan tidak nampak dari perbedaan yang terdapat pada kehidupan masing-masing. Kehidupan manusia selalu dipenuhi dengan perubahan dan karena itu kehidupannya dinamis, sedangkan hewan tidak. Kehidupan hewan bersifat statis, tidak mengalami perubahan. Dari waktu ke waktu hidupnya tetap sama. Itulah perbedaan yang nampak pada hewan dengan manusia secara nyata.
Al-Qur’an menggambarkan dengan jelas fenomena akal pada manusia dengan jelas:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“Kami telah menjadikan untuk isi neraka jahanam, kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak digunakan untuk berpikir. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka seperti hewan, bahkan lebih hina lagi.” (QS. Al A’raaf : 179)
Ayat ini menjelaskan adanya persamaan antara manusia dan jin dengan hewan; ketika manusia dan jin sama-sama diberi akal, pendengaran dan penglihatan, namun tidak digunakan untuk berpikir, mendengar dan melihat realitas, maka mereka sama dengan hewan. Pada dasarnya mereka tidak sama, tetapi ketika keistimewaan manusia dan jin tersebut tidak digunakan, maka mereka sama dengan hewan. Jika Allah swt menyamakan manusia dengan hewan, ketika manusia tidak berpikir, berarti hewan memang tidak mempunyai akal. Dengan demikian manusia diberi keistimewaan akal oleh Allah, sedangkan hewan tidak.
Meskipun secara empiris dan normatif dalam pandangan Islam sudah jelas, bahwa manusia mempunyai akal, tetapi sejak zaman dulu banyak ulama Islam maupun non-Islam tidak mampu menjelaskan esensi akal. Karena itu, pembahasan akidah Islam juga mengalami kekacauan, sehingga berkembanglah Ilmu Kalam di dunia Islam. Maka, memahami batasan akal dan pikiran ini menjadi sangat penting. Dengan begitu semua masalah yang terjadi akibat ketidakjelasan batasan ini bisa dipecahkan.
Kata ‘akal’ berasal dari bahasa arab: al aql. Arti lafadz tersebut sama dengan al- idrak dan al- fikr. Ketiga lafadz tersebut maknanya sama. Dalam bahasa arab, kata seperti ini disebut mutaradif atau sinonim. Akal merupakan khasiyyat yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia, yang merupakan khasiyyat otak manusia. Sebab otak manusia mempunyai keistimewaan untuk mengaitkan realitas yang diindera dengan informasi. Berbeda dengan otak hewan, otak hewan tidak mempunyai khasiyyat untuk mengaitkan realitas dengan informasi. Karena itu, hewan tidak dapat diajar bertingkah-laku baik dan sopan, padahal hewan mempunyai otak, indera, bisa menerima informasi dan diberi realitas. Ini terjadi otak hewan tidak bisa mengaitkan realitas dengan informasi. Akibatnya setiap informasi yang diberikan pada hewan akan hilang, karena fungsi otaknya tidak sama dengan otak manusia. Inilah bedanya otak hewan dengan manusia.
Otak manusia adalah sesuatu yang ada dalam tengkorak kepala. Benda ini dikelilingi dengan tiga lapis selaput yang dijaring dengan rajutan urat saraf yang jumlahnya tidak terhitung, kemudian saraf tersebut dihubungkan keseluruh indera dan bagian tubuh manusia. Berat otak manusia dewasa mencapai 1200 gram. Otak tersebut menghabiskan 25% oksigen yang diperoleh dari kedua paru-paru. Para saintis telah berkesimpulan melalui eksperimen yang dilakukan dengan menggunakan alat elektronik pengukur kerja otak, bahwa otak merupakan organ yang berfungsi untuk berpikir. Melalui alat tersebut dapat diketahui, bahwa ketika seseorang sedang berpikir, grafik yang tertulis pada alat tersebut akan naik. Sebagian saintis bahkan telah sampai pada kesimpulan, bahwa informasi yang dapat disimpan oleh otak manusia mencapai tidak kurang dari 90 juta informasi. Inilah keunikan otak manusia yang tidak dimiliki oleh otak hewan.
Dengan demikian, adalah kesalahan besar ketika membahas akal disimpulkan sebagai organ fisik yang berada didalam otak, kepala ataupun dada, dengan argumen, bahwa hati ada didada. Karena fakta membuktikan, bahwa hewan juga mempunyai ‘hati’ yang ada didada, namun hewan tetap tidak mempunyai akal. Karena itu, akal sesungguhnya merupakan “kekuatan untuk menghasilkan keputusan (kesimpulan) tentang sesuatu”. Kekuatan ini bukan merupakan kerja satu organ tubuh manusia, seperti otak, sehingga akal dianggap sama dengan otak, lalu disimpulkan bahwa akal tempatnya ada di kepala. Tentu kesimpulan salah.
Jika demikian apa yang membentuk kekuatan tersebut yang kemudian secara simultan dapat membentuk akal? Setelah melalui penelitian yang mendalam dapat ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan tadi terbentuk dari empat komponen. Dari keempat komponen inilah kemudian menghasilkan apa yang disebut akal. Adapun proses kerja komponen tersebut sampai menghasilkan kekuatan yang disebut akal adalah dengan memindahkan realitas yang telah diindera kedalam otak melalui alat indera yang ada, dan dengan informasi awal yang ada di otak, realitas tersebut disimpulkan. Pada saat itulah terbentuklah kekuatan untuk menyimpulkan realitas. Inilah esensi akal manusia.
Intelektual sosialis, juga telah membuat kesimpulan mengenai akal, bahwa akal merupakan kekuatan yang dihasilkan melalui proses merefleksikan realitas kedalam otak atau otak kedalam realitas. Mereka sengaja menolak informasi awal ketika memberikan gambaran mengenai akal. Maka, mereka menyusun argumentasi, bahwa akal merupakan kekuatan hasil refleksi otak kedalam realitas atau sebaliknya? Jawabannya tentu tidak benar. Sebab otak maupun realitas tersebut sama-sama tidak dapat melakukan refleksi atau pantulan seperti cermin. Yang membawa pantulan objek kedalam otak tersebut sebenarnya adalah indera yang digunakan untuk menangkap objek tadi adalah hidung, seperti bau busuk. Juga berbeda ketika objek yang ada ditangkap dengan telinga, seperti bunyi mobil, maka memori yang tersimpan dalam otak pun berbentuk bunyi. Demikian seterusnya.
Inilah yang mereka sebut sebagai refleksi. Yang benar, semuanya tadi bukanlah hasil penginderaan manusia. Jadi, refleksi tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada adalah transformasi objek ke dalam otak dalam bentuk memori. Dengan pandangan tersebut, sebenarnya intelektual sosialis mengakui bahwa komponen akal yang dapat digunakan untuk berpikir tersebut adalah : (1) otak, (2) realitas yang dapat diindera, dan (3) penginderaan, yang mereka sebut dengan “refleksi”.
Sedangkan alasan mereka menolak adanya informasi awal, sebenarnya lebih disebabkan karena akidah mereka yang tidak mau mengakui eksistensi Tuhan. Sebab mengakui adanya informasi awal, berarti mengakui bahwa adanya pemikiran lebih dahulu dibanding dengan adanya realitas. Dari sini akan muncul pertanyan ; dari mana datangnya pemikiran manusia yang pertama? Sebab, kalau hal itu diakui, berarti harus ada Zat diluar diri manusia yang memberikan pemikiran tersebut, dan Zat itu juga bukan merupakan realitas itu sendiri. Tentu saja ini bertentangan dengan akidah mereka yang menyatakan, bahwa alam atau realitas yang ada adalah azali, tidak memerlukan Zat diluar dirinya. Dengan demikian mereka membuat andaian, bahwa manusia pertama telah melakukan eksperimen untuk mendapatkan informasi.
Benarkah manusia dapat berpikir tanpa informasi awal? Anak kecil atau orang dewasa yang gila adalah contoh terbaik untuk membuktikannya. Anak kecil dan orang gila otaknya sama-sama tidak sempurna. Masing-masing otak mereka tidak dapat digunakan untuk mengaitkan antara informasi awal dengan realitas yang ditransfer oleh alat indera mereka. Akibatnya, baik anak kecil maupun orang gila tersebut, sama-sama tidak dapat membedakan realitas yang ada didepannya. Ketika anak kecil memegang batu, batu tersebut akan dimakan, dan orang gila pun akan melakukan hal yang sama. Masing-masing mempunyai otak, tetapi benarkah dengan otak mereka masing-masing realitas di depan mereka secara otomatis dapat disimpulkan? Ternyata tidak. Jika orang gila yang dapat melakukannya, tentu karena sisa memori yang masih terdapat dalam otak mereka. Sementara anak kecil tadi sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa. Contoh lain, ketika anak kecil tersebut diberi kosakata yang salah, seperti buang air besar dinyatakan dengan menyanyi, maka sampai besar anak tersebut akan berkesimpulan bahwa menyanyi adalah buang air besar. Semuanya ini merupakan pengaruh informasi awal pada diri manusia.
Gambaran ini terlihat dari penjelasan Allah kepada malaikat, ketika mereka memprotes Allah SWT terhadap penciptaan Adam. Menurut mereka , manusia hanya akan menimbulkan kerusuhan dimuka bumi. Allah kemudian membantah seraya menyatakan:”Aku maha tahu tentang apa yang kamu tidak tahu”. Allah pun kemudian membuktikan pernyataan-Nya:
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ(31) قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ(32) قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ(33)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian mengajukannya kepada malaikat seraya berfirman: ‘ Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka semuanya jika kamu benar (dengan tuduhan kamu, bahwa lebih tahu)’. “Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, kami tidak mempunyai ilmu sedikit pun kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya engkau Maha Mengetahui lagi Bijaksana’. “Dia berfirman: ‘Wahai Adam, sampaikanlah kepada mereka nama-nama mereka semua’. Apabila Adam selesai menyebutkan kepada mereka nama-nama semuanya itu, “Dia berfirman: ‘Bukankah Aku telah beritahukan kepada kamu, bahwa Aku Maha Tahu perkara gaib di langit dan di bumi, serta Maha Tahu apa yang kamu kemukakan dan apa yang kamu sembunyikan."
(QS. Al-Baqarah: 31-33)
Ayat diatas dengan jelas membuktikan bahwa malaikat tidak bisa membuat kesimpulan mengenai realitas yang ditunjukkan oleh Allah, sedangkan Adam dapat melakukannya setelah Adam diberi informasi oleh Allah, sedangkan malaikat tidak diberi informasi terlebih dahulu oleh Allah. Dengan demikian jelas, bahwa tidak ada satupun manusia dapat mengambil kesimpulan tanpa mempunyai informasi awal.
IRMA Al-Ghifari SMA Negeri 3 Purwakarta
SMAN 3 Purwakarta