15/07/2015
(Alm)
Urang Bandung Pisan!
Pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1965 ini nama aslinya Didi Widiatmoko. Ketertarikan Didi Petet akan dunia akting sudah terlihat saat ia duduk di bangku SMA. Perkenalannya dengan seniman Harry Rusli membuka jalannya untuk bermain di panggung teater.
Nama Didi Petet ia dapatkan dari landian (julukan) saat zaman SMA. Katanya waktu SMA banyak yang namanya Didi.
"Kebetulan mata saya mah agak sipit yang dalam bahasa Sunda disebut petet, maka untuk membedakan dengan yang lain, saya kemudian dijuluki Didi Petet."
Sementara kisah saat masa kecilnya, Kang Didi menuturkan:
"Saya menghabiskan masa kecil di Kota Bandung, karena orang tua saya ditugaskan di Bandung. Kebetulan orang tua bekerja di PT. Kereta Api Indonesia. Ya, karena ayah saya bekerja di PT. KAI. Waktu kecil saya tak asing dengan kereta dan sering naik kereta api gratis. Saya bersekolah di SD Sabang Bandung. Setelah lulus dari SD Sabang kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Bandung dan melanjutkan ke SMAN 3 Bandung. Setelah itu saya masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ) angkatan 1977."
Seni Peran sebagai Jalan Hidup
Sejak SMP sekitar umur 15 tahun, duta PT KAI ini sudah mencintai dunia peran. Kreatifitasnya yang tinggi dan kecintaannya terhadap dunia peran tertanam sejak kecil hingga Ia pun memutuskan kuliah di Institut Kesenian Jakarta Jurusan Teater untuk merealisasikan minatnya di dunia seni.
"Sebelum terjun kedunia peran, sebetulnya saya lebih s**a main musik walau merasa permainan saya pas-pasan. Saya pernah gabung bersama Kang Harry Rusli. Dimana suatu saat Kang Harry Rusli mengajak saya untuk ikut pentas diatas panggung dan awal mula saya pentas jadi tukang baso. Pementasan itu saya ingat dalam opera Ken Arok. Senangnya bukan kepalang saat saya berada di atas panggung!"
Di IKJ, ia mendapatkan bimbingan langsung dari Tatiek Maliyati, pengajar seni peran di IKJ yang sudah ia anggap sebagai ibu sendiri. Selain teater, Didi juga menekuni seni pantomin. Pada tahun 1985, Didi Petet memulai kariernya di film layar lebar berjudul Semua Karena Ginah. Pada tahun 1988, Didi Petet menyabet gelar Pemeran Pembantu Terbaik di ajang Film Indonesia berkat film Cinta Anak Zaman.
Pemeran Kang Bahar dalam sinetron "Preman Pensiun" ini telah membintangi banyak film dan teater, memerankan berbagai tokoh mulai dari Emon dalam "Catatan si Boy", Kabayan dalam "Si Kabayan Saba Kota", sampai Suwito dalam "Pasir Berbisik".
Aktor yang Mendulang Banyak Penghargaan
Ia merupakan aktor kawakan yang sudah mendulang banyak penghargaan dari jagad film di Tanah Air. Ia pernah mendapatkan penghargaan dan nominasi dari mulai FFI, FFB, Piala Vidia, hingga Indonesia Movie Award. Aktivitasnya kini selain syuting, ia mendirikan production house juga aktif dalam sejumlah pementasan teater, seminar tentang seni peran dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Sosok Didi Petet bagi urang Bandung sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai pemeran si Kabayan dalam film "Kabayan Saba Kota" dan beberapa sekuelnya. Lawan mainnya pada waktu itu Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, hingga almarhumah Nike Ardilla. Mungkin selain Kang Ibing, tokoh si Kabayan bisa dikatakan benar-benar "nempel" pada sosok Kang Didi Petet.
Logat Sunda-nya sangat fasih dan tak mencirikan ia urang wetan. Kembalinya Didi Petet ke Bandung via Preman Pensiun, seakan membalikkan kenangan masyarakat pada sosok si Kabayan yang pada tahun '80-an pernah blus**an main di beberapa tempat di Jawa Barat, dari kawasan Alun-Alun Bandung, D**o, kawasan Gedung Sate, hingga sebuah pesantren di kawasan Cicalengka yang dipakai tempat syuting si Kabayan.
Bagi urang Bandung sendiri, Didi Petet bisa dikatakan warga kehormatan. Lewat si Kabayan Saba Kota, nama Bandung pada waktu itu terangkat pamornya dan filmnya sendiri meledak di pasaran. Apalagi waktu itu, film si Kabayan menjadi ajang pemersatu para seniman, pejabat, dan tokoh masyarakat Sunda dimana semua ikut ngarojong (mendukung) yang hingga kini belum terulang lagi di Kota Bandung. Film si Kabayan waktu selain hiburan, juga sisi lain urang Sunda yang bisa disatukan lewat media seni. Lewat film itu, masyarakat bisa kenal tokoh-tokoh, tempat-tempat wisata, hingga seni-budaya Sunda. Dan kini, memori itu seakan digali kembali dalam sinetron "Preman Pensiun".
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Didi Petet wafat di usia 58 tahun. Kang Didi meninggal hari ini Jumat, 15 Mei 2015 pukul 05.00 WIB karena sakit. Pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956 itu menyumbangkan banyak karya untuk dunia perfilman Indonesia. Pemeran Kang Bahar dalam sinetron "Preman Pensiun" ini telah membintangi banyak film dan teater, memerankan berbagai tokoh mulai dari Emon dalam "Catatan si Boy", Kabayan dalam "Si Kabayan Saba Kota", sampai Suwito dalam "Pasir Berbisik". Film lainnya yang pernah ia bintang: "Rindu Kami Padamu", "Arisan!", "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", dan masih banyak lagi, hingga yang terakhir "Guru Bangsa Tjokroaminoto".
Khusus di Tatar Jawa Barat, sosok Didi Petet telah melekat di masyarakat sebagai sosok si Kabayan dalam film "Si Kabayan Saba Kota" (1989), "Si Kabayan Saba Metropolitan" (1992), "Si Kabayan Cari Jodoh" (1994), dan yang terakhir ia kembali ke Bandung menampilkan sosok Kang Bahar di sinetron komedi "Preman Pensiun" garapan ANP Production dan MNC Pictures.
Penghargaan Kang Didi Petet di Bidang Seni Peran:
- Aktor Pembantu Terbaik, Piala Citra FFI 1988 (Cinta Anak Jaman)
- Aktor Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 1988 (Catatan si Boy)
- Aktor Terpuji FFB 1989 (Gema Kampus 66)
- Aktor Terpuji FFB 1994 (Si Kabayan Cari Jodoh)
- Lifetime Achievement MTV Indonesia Movie Award 2004
- Nominasi Piala Citra 1990, Aktor Utama (Joe Turun Ke Desa)
- Nominasi Piala Citra 1991, Aktor Utama (Boneka dari Indiana)
- Nominasi Piala Citra 2004, Aktor Pembantu (Pasir Berbisik)
- Nominasi Indonesian Movie Award 2010, Aktor Utama (Jermal)
- Nominasi Piala Vidia 2011, Aktor Pembantu (Bakpao Pingping)
- Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2013
wisatabdg*com