Preman Pensiun

Preman Pensiun "Unofficial Preman Pensiun Page" , Kami hanya membantu memberi info2 seputar Preman Pensiun untuk penggemar di Facebook @[310459062395197:]
(335)

18/07/2015

Muslihat jualan kicimpring
Dikdik berhenti cari kerja lain
Bohim kerja di tempat sablon
Komar diberhentikan Kang Mus
Jony jadi security
Jupri dagang sepatu
Iwan ikut Porda

Ubed, Dewi, Junaedi buka usaha
Enang & Arman tertangkap
Saep jadi gelo!!..

Semoga ketemu lagi di Preman Pensiun 3

Sudah siap belum nonton episode terkahir PP2 hari ini ? :') Jangan sampai kelewat , menunggu hitungan menit.. StayTune p...
18/07/2015

Sudah siap belum nonton episode terkahir PP2 hari ini ? :')
Jangan sampai kelewat , menunggu hitungan menit.. StayTune

photo by

18/07/2015

Sebelum kita menyaksikan Preman Pensiun 2 Eps.46 Full (Ending) nanti jam 16.45 WIB ,

Saya ingin berbagi cuplikan beberapa scene aja (bukan full video) tentang Kang Mus & Kang Komar ( PP) , Bang Ojak & Mpok Tati (T.O.P) , yang mana mereka pernah bermain bareng dalam satu sitkom garapan Kang Aris Nugraha, bertajuk The Adventure Of Suparman "Versi FTV" (Suparman : Sang Pahlawan). Yang pernah ditayangkan oleh MNC TV pada tahun 2011/2012. Mungkin ada yg pernah menonton... VIdeo ini cuma sekedar flash back aja... Salah satu karya dari Aris Nugraha... cikal bakal Kesuksesan Preman Pensiun... semoga berkenan yaa dengan video ini , seru deh pokonya Kang Komar jadi tukang jambrettt :)

cc :





17/07/2015

Moment Emosional Kang Mus kepada Anaknya "Eneng"

Smoga Bermanfaat..

Hidup ini memang penuh rahasia Kang Bahar yang tidak tersentuh orang dan belum terlalu tua, tiba2 pergi.. Ya, kita juga ...
17/07/2015

Hidup ini memang penuh rahasia
Kang Bahar yang tidak tersentuh orang dan belum terlalu tua, tiba2 pergi..
Ya, kita juga akan pergi dan sebaiknya pergi dalam keadaan seperti Kang Bahar..
-Muslihat-

Ini adalah pesan Muslihat kepada anak buahnya di episode terakhir Preman Pensiun 2.. Semua orang akan pensiun pada waktunya.. Kita harus bersiap diri menghadapi itu tentu dalam kondisi hidup kita baik dan terjauh dari hal2 yang merugikan kita kelak..

Saksikan Preman Pensiun 2 Episode 46 (Terakhir) , Sabtu, 18 Juli 2015 Jam 16.45 sore
cc :

Pecinta Preman Pensiun, Mau tanya nih, lebaran tahun ini liburan kemana ??? sekalian kang Pirmansyah Pitra alias Kang Pi...
17/07/2015

Pecinta Preman Pensiun,
Mau tanya nih, lebaran tahun ini liburan kemana ??? sekalian kang Pirmansyah Pitra alias Kang Pipit minta bantuan, barangkali ada tempat yg bagusss untuk liburan, boleh d**g berbagi info..... sekedar menghangatkan suasana lebaran katanya.... hehehehe...

ARIS NUGRAHA SANG SUTRADARA & PENULISAris Nugraha, pria Asgar (asli Garut) ini memang mbahnya sinetron komedi. Sutradara...
16/07/2015

ARIS NUGRAHA SANG SUTRADARA & PENULIS

Aris Nugraha, pria Asgar (asli Garut) ini memang mbahnya sinetron komedi. Sutradara dan penulis skenario produktif dan berbakat ini kerap masuk nominasi di ajang festival yang berhubungan dengan dunia akting. Ia pernah masuk nominasi Festival Film Bandung 2003 ('Bajaj Bajuri'), 2005 ('Radio Repot') dan 2011 ('Udin Bui'). Selain itu, karya-karyanya yang lain adalah 'Tante Tuti' (Film Cerita Serial Televisi Terbaik Festival Film Indonesia 2006), 'Kejar Kusnadi', 'The Coffee Bean Show', 'Camera Cafe', 'The Adventures of Suparman', dan 'Raj's Family'.

Pria yang pernah menerbitkan buku antologi puisi di tahun 90-an 'Catatan Gunung Sahari' (Puspa Swara, 1993) dan 'Nyanyian Hutan Bakau' (Pustaka Sastra, 1994) ini memang spesialis dalam urusan sinetron komedi. Untuk urusan penulisan skenario, Kang Aris pun tak segan berbagi ilmu untuk meregenerasi penulis-penulis televisi berbakat.

Ia pun membentuk workshop tempat penulisan naskah komedi dengan membuka ANP Writing Group yang kini telah berubah nama menjadi ANP FILMS. Melalui ANP Films, Aris yang bertindak sebagai creator/creative supervisor menelorkan generasi muda yang karya-karyanya juga sudah ditayangkan di televisi. Karya-karya tayangan lainnya antara lain sitkom 'OB', 'Suami-suami Takut Istri', 'Kejar Tayang' dan banyak lagi.

Sinetron: Antara Tontonan dan Tuntunan
Penyair kelahiran Venosa Italia, Quintus Horatius Flaccus dalam tulisannya yang berjudul Ars Poetica mengemukakan istilah ‘dulce et utile’. Bahwa karya berfungsi ganda, ia tidak hanya menghibur (dulce) tetapi juga memberikan makna/nilai-nilai (utile) terhadap kehidupan. Itulah yang selama ini prinsip yang dipegang oleh Kang Aris.

Dalam perbincangan serius tapi santai yang dilakukan wisatabdg.com dengan Kang Aris pada 02/02/2015, di basecamp "Preman Pensiun" di kawasan Jln. Lodaya, Bandung, ia menuturkan bahwa idealisme itu penting dalam kelahiran sebuah karya. Ia tak mau "melacurkan" diri hanya demi urusan bisnis atau profit semata.

"Ada tanggung jawab moral bagi saya dalam menyelipkan pesan-pesan kehidupan dalam karya-karya yang saya buat. Saya ingin karya tersebut bisa dinikmati semua kalangan dan tentunya mampu memberikan pencerahan bagi para penonton tanpa harus menampilkan adegan-adegan yang terkesan kaku dan menggurui dalam urusan pemahaman nilai-nilai kehidupan," papar Kang Aris.

Bagi sosok yang oleh pemain dan kru dianggap bapak, guru, dan sahabat ini urusan sinetron bukan menjual mimpi. Tayang komedi pun begitu, bukan sekadar hanya bikin penonton tertawa tapi tidak mengambil hikmah dalam adegan-adegan yang dipertontonkan. Tayangan komedi adalah wilayah humor dimana dalam penggarapannya justru menuntut keseriusan tingkat tinggi.

"Penonton diharapkan mampu lebih peka terhadap kenyataan yang ada. Dalam berkarya, saya menjauhkan sinetron sekadar komedi semata karena saat pembuatan naskahnya pun saya lakukan dengan sangat serius. Saya memang dikenal tegas untuk urusan ini. Saya selalu menuntut semua pemain serius melakukan semua dialog dan ekspresi seperti yang ada di dalam naskah. Jadi, naskah mutlak, karena bagi saya membuat rancangan sinetron 90 persen selesai di otak," jelas Kang Aris.

Karyamu Sejarahmu!

Bagi Kang Aris Nugraha, karya adalah media bagi manusia untuk menunjukkan eksistensi sebagai manusia. Karya baginya adalah jejak dalam periode kehidupan manusia yang seiring berjalannya waktu tak lain adalah jejak sejarah dalam rekaman hidup manusia. Untuk itulah, karya hendaknya mampu memberikan manfaat secara horizontal (manusia) dan dapat dipertanggungjawabkan secara vertikal (Tuhan). Untuk itulah, karya harus lahir dari hati yang paling dalam dan jujur pada diri sendiri.

Baginya, untuk para pemain pun sebetulnya manusia sudah dibekali jiwa aktor. Untuk urusan pemilihan pemain, Kang Aris tidak menerapkan pola kaku. Penunjukkan pemain baginya urusan feeling dan kecocokan dengan naskah yang ia buat. Misalnya, untuk pemilihan para pemain sinetron "Preman Pensiun", selain para pemain yang sudah malang melintang di jagat entertainment di Jakarta, ia pun mengambil sosok-sosok baru dari Bandung. Inilah tantangannya, bagaimana pemain sekelas Didi Petet harus beradegan dengan para pemain-pemain baru. Tapi hal tersebut bisa diambil solusinya dengan mengedepankan unsur kekeluargaan dan sharing ilmu peran antarpemain.

Keberhasilan timbulnya chemistry antarpemain juga keberhasilan sinetron dapat diterima masyarakat, karena ada rasa intim antara penonton dengan apa yang ditayangkan. Begitu p**a dalam urusan pemilihan pemain, Kang Aris mengambil beberapa pemain debutan dari casting yang diadakan juga ia hunting sendiri. Bahkan untuk beberapa pemain pun, ia tak segan untuk mengambil pemain dengan latar belakang sama yang ia perankan. Misalnya, untuk pemeran beberapa preman memang sang pemeran pun adalah preman asli.

"Tuh, seperti Romyan Fauzan yang memerankan Uyan. Saya ajak ketika ia sedang asyik memotret di sebuah tempat di Bandung. Kebetulan waktu itu saya sedang jalan-jalan di seputaran Bandung. Atau Matt Drajat yang tiba-tiba saja saya keingetan namanya; waktu saya disuruh pihak RCTI untuk menggarap sinetron ini. Saya memang sudah lama tak mengontak Matt Drajat dan mungkin nomornya saya sudah tak ada di HP dia. Eeeh... ketika saya SMS untuk ikut main di sinetron ini, ia malah balas: Siapa ini ya? Hahahaha...." Kang Aris nyakakak sambil menunjuk sosok tokoh Kang Komar yang ikut seuri kuda yang duduk ikut ngariung bersama pemain-pemain "Preman Pensiun" lainnya.

Kekeluargaan, itulah yang kami tangkap saat ngobrol santai dengan Kang Aris sore itu. Para pemain seperti sedang "mendownload" ilmu tentang dunia peran yang dipaparkan Kang Aris. Begitu p**a, bagi Kang Aris kerjaan bikin sinetron seperti mesin, hal terkecil pun harus diperhitungkan dengan baik. Karena jika ada gangguan sedikit pun akan mempengaruhi pada kualitas proses dan hasil kerja. Makanya bagi Kang Aris tak ada istilah pemain "anak emas", apalagi dominasi. Para pemain adalah aset sekaligus yang memberi warna pada hasil kerja. Jika karya dilakukan dengan hati, penikmat pun akan menerimanya dengan hati.

"Keun, urusan materi dan sebagainya mah... engke ge nuturkeun. Yang penting kita kerja profesional, dibarengi hati, dalam tim saling menghargai, semua paham kondisi, dan tentunya kita kerja punya tanggung jawab pada masyarakat yang menonton. Masyarakat sekarang ini sudah semakin cerdas dalam memilih tayangan. Untuk itulah, saya nganuhukeun pisan kepada semua para penikmat sinetron Preman Pensiun, khususnya warga Bandung. Terima kasih atas apresiasi yang luar biasa atas karya kami ini," pungkas Kang Aris yang kemudian siap-siap menghidupkan mesin motornya untuk melanjutkan take selanjutnya di kawasan Antapani. (*Abah )

Pengumuman , Pengumuman
15/07/2015

Pengumuman , Pengumuman

yang lagi mudik H-2 , Kang Mus pengen tau nih Situasi , Kondisi, Pantauan & Jangkauan Arus Mudik di daerah kalian (Sebut...
15/07/2015

yang lagi mudik H-2 , Kang Mus pengen tau nih Situasi , Kondisi, Pantauan & Jangkauan Arus Mudik di daerah kalian (Sebutkan Daerahnya) ??? Lancar / Padat / Merayap / Macet Total ?

Padat Merayap

Semoga selamat sampai tujuan yaa.... aamiin.. :)

  (Alm)Urang Bandung Pisan! Pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1965 ini  nama aslinya Didi Widiatmoko.  Ketertarikan Didi ...
15/07/2015

(Alm)

Urang Bandung Pisan!

Pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1965 ini nama aslinya Didi Widiatmoko. Ketertarikan Didi Petet akan dunia akting sudah terlihat saat ia duduk di bangku SMA. Perkenalannya dengan seniman Harry Rusli membuka jalannya untuk bermain di panggung teater.

Nama Didi Petet ia dapatkan dari landian (julukan) saat zaman SMA. Katanya waktu SMA banyak yang namanya Didi.
"Kebetulan mata saya mah agak sipit yang dalam bahasa Sunda disebut petet, maka untuk membedakan dengan yang lain, saya kemudian dijuluki Didi Petet."

Sementara kisah saat masa kecilnya, Kang Didi menuturkan:
"Saya menghabiskan masa kecil di Kota Bandung, karena orang tua saya ditugaskan di Bandung. Kebetulan orang tua bekerja di PT. Kereta Api Indonesia. Ya, karena ayah saya bekerja di PT. KAI. Waktu kecil saya tak asing dengan kereta dan sering naik kereta api gratis. Saya bersekolah di SD Sabang Bandung. Setelah lulus dari SD Sabang kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Bandung dan melanjutkan ke SMAN 3 Bandung. Setelah itu saya masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ) angkatan 1977."

Seni Peran sebagai Jalan Hidup

Sejak SMP sekitar umur 15 tahun, duta PT KAI ini sudah mencintai dunia peran. Kreatifitasnya yang tinggi dan kecintaannya terhadap dunia peran tertanam sejak kecil hingga Ia pun memutuskan kuliah di Institut Kesenian Jakarta Jurusan Teater untuk merealisasikan minatnya di dunia seni.

"Sebelum terjun kedunia peran, sebetulnya saya lebih s**a main musik walau merasa permainan saya pas-pasan. Saya pernah gabung bersama Kang Harry Rusli. Dimana suatu saat Kang Harry Rusli mengajak saya untuk ikut pentas diatas panggung dan awal mula saya pentas jadi tukang baso. Pementasan itu saya ingat dalam opera Ken Arok. Senangnya bukan kepalang saat saya berada di atas panggung!"

Di IKJ, ia mendapatkan bimbingan langsung dari Tatiek Maliyati, pengajar seni peran di IKJ yang sudah ia anggap sebagai ibu sendiri. Selain teater, Didi juga menekuni seni pantomin. Pada tahun 1985, Didi Petet memulai kariernya di film layar lebar berjudul Semua Karena Ginah. Pada tahun 1988, Didi Petet menyabet gelar Pemeran Pembantu Terbaik di ajang Film Indonesia berkat film Cinta Anak Zaman.

Pemeran Kang Bahar dalam sinetron "Preman Pensiun" ini telah membintangi banyak film dan teater, memerankan berbagai tokoh mulai dari Emon dalam "Catatan si Boy", Kabayan dalam "Si Kabayan Saba Kota", sampai Suwito dalam "Pasir Berbisik".

Aktor yang Mendulang Banyak Penghargaan

Ia merupakan aktor kawakan yang sudah mendulang banyak penghargaan dari jagad film di Tanah Air. Ia pernah mendapatkan penghargaan dan nominasi dari mulai FFI, FFB, Piala Vidia, hingga Indonesia Movie Award. Aktivitasnya kini selain syuting, ia mendirikan production house juga aktif dalam sejumlah pementasan teater, seminar tentang seni peran dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Sosok Didi Petet bagi urang Bandung sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai pemeran si Kabayan dalam film "Kabayan Saba Kota" dan beberapa sekuelnya. Lawan mainnya pada waktu itu Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, hingga almarhumah Nike Ardilla. Mungkin selain Kang Ibing, tokoh si Kabayan bisa dikatakan benar-benar "nempel" pada sosok Kang Didi Petet.

Logat Sunda-nya sangat fasih dan tak mencirikan ia urang wetan. Kembalinya Didi Petet ke Bandung via Preman Pensiun, seakan membalikkan kenangan masyarakat pada sosok si Kabayan yang pada tahun '80-an pernah blus**an main di beberapa tempat di Jawa Barat, dari kawasan Alun-Alun Bandung, D**o, kawasan Gedung Sate, hingga sebuah pesantren di kawasan Cicalengka yang dipakai tempat syuting si Kabayan.

Bagi urang Bandung sendiri, Didi Petet bisa dikatakan warga kehormatan. Lewat si Kabayan Saba Kota, nama Bandung pada waktu itu terangkat pamornya dan filmnya sendiri meledak di pasaran. Apalagi waktu itu, film si Kabayan menjadi ajang pemersatu para seniman, pejabat, dan tokoh masyarakat Sunda dimana semua ikut ngarojong (mendukung) yang hingga kini belum terulang lagi di Kota Bandung. Film si Kabayan waktu selain hiburan, juga sisi lain urang Sunda yang bisa disatukan lewat media seni. Lewat film itu, masyarakat bisa kenal tokoh-tokoh, tempat-tempat wisata, hingga seni-budaya Sunda. Dan kini, memori itu seakan digali kembali dalam sinetron "Preman Pensiun".
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Didi Petet wafat di usia 58 tahun. Kang Didi meninggal hari ini Jumat, 15 Mei 2015 pukul 05.00 WIB karena sakit. Pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956 itu menyumbangkan banyak karya untuk dunia perfilman Indonesia. Pemeran Kang Bahar dalam sinetron "Preman Pensiun" ini telah membintangi banyak film dan teater, memerankan berbagai tokoh mulai dari Emon dalam "Catatan si Boy", Kabayan dalam "Si Kabayan Saba Kota", sampai Suwito dalam "Pasir Berbisik". Film lainnya yang pernah ia bintang: "Rindu Kami Padamu", "Arisan!", "Pacar Ketinggalan Kereta", "Gema Kampus 66", dan masih banyak lagi, hingga yang terakhir "Guru Bangsa Tjokroaminoto".

Khusus di Tatar Jawa Barat, sosok Didi Petet telah melekat di masyarakat sebagai sosok si Kabayan dalam film "Si Kabayan Saba Kota" (1989), "Si Kabayan Saba Metropolitan" (1992), "Si Kabayan Cari Jodoh" (1994), dan yang terakhir ia kembali ke Bandung menampilkan sosok Kang Bahar di sinetron komedi "Preman Pensiun" garapan ANP Production dan MNC Pictures.

Penghargaan Kang Didi Petet di Bidang Seni Peran:

- Aktor Pembantu Terbaik, Piala Citra FFI 1988 (Cinta Anak Jaman)
- Aktor Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 1988 (Catatan si Boy)
- Aktor Terpuji FFB 1989 (Gema Kampus 66)
- Aktor Terpuji FFB 1994 (Si Kabayan Cari Jodoh)
- Lifetime Achievement MTV Indonesia Movie Award 2004
- Nominasi Piala Citra 1990, Aktor Utama (Joe Turun Ke Desa)
- Nominasi Piala Citra 1991, Aktor Utama (Boneka dari Indiana)
- Nominasi Piala Citra 2004, Aktor Pembantu (Pasir Berbisik)
- Nominasi Indonesian Movie Award 2010, Aktor Utama (Jermal)
- Nominasi Piala Vidia 2011, Aktor Pembantu (Bakpao Pingping)
- Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2013

wisatabdg*com

 Dalam sinetron "Preman Pensiun", ia menjadi wakil langsung Kang Bahar di lapangan. Sekaligus juga ia merupakan penerus ...
15/07/2015



Dalam sinetron "Preman Pensiun", ia menjadi wakil langsung Kang Bahar di lapangan. Sekaligus juga ia merupakan penerus dari bisnis Kang Bahar. Walaupun badannya termasuk kerempeng, namun Kang Mus punya wibawa luar biasa.

Ia adalah preman ahli strategi dan tak segan untuk mengambil tindakan, termasuk ke Jamal. Namun, sejago-jagonya Kang Mus, ia tetap kalah ketika anak perempuan semata wayangnya punya keinginan.

Begitu p**a dengan sang mertua, si Ema yang ajaib luar biasa bikin preman sekelas Kang Mus pun dibuat jengkel dan memilih mengalah. Begitu p**a dengan anak buahnya, Kang Komar, yang selalu ia jenggut (jambak) rambutnya, karena anak buahnya yang satu ini selalu bikin kesal karena telat mikir. Ciri lainnya, ia tak jarang pesan segelas kopi tapi tak diminumnya karena ia keburu ada panggilan tugas atau keperluan lain. Namun, ciri motor Vespa plus helm batok menjadi ciri khas tokoh Kang Mus.

Ada kisah menyentuh yang menjadi benang merah hubungan Kang Bahar dengan Kang Mus, hingga ia menjadi orang kepercayaan Kang Bahar. Dikisahkan, Kang Mus yang sudah gelap pikiran karena harus menolong ibunya yang sakit keras. Ia pun nekad melakukan tindakan nekad dengan berniat mencuri di sebuah rumah. Saat sedang berusaha mencongkel jendela, ternyata aksinya ketahuan oleh sang pemilik rumah yang tiada lain Kang Bahar. Tokoh preman senior yang ditakuti dan disegani oleh lawan-lawannya maupun masyarakat ini, ternyata tak melakukan tindakan yang biasa dilakukan pada sang maling. Sikap Kang Bahar inilah yang kemudian mampu menaklukkan hati Muslihat. Hingga
akhirnya ia pun menjadi orang kepercayaan Kang Bahar. Pada tayangan episode terakhir "Preman Pensiun" season 1, Kang Bahar menyerahkan estafet kekuasaannya pada Kang Mus di depan para anak buahnya dengan pemberian cincin akik sebagai tanda simbolis.

Profil Epy Kusnandar
Tokoh Kang Mus dengan apik diperankan oleh Epy Kusnandar. Pria Asgar (asli Garut) ini, lahir 1 Mei 1964 adalah aktor Indonesia yang aktif di teater sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Setelah lulus SMA pada tahun 1983, Epy baru melanjutkan ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1989. Sejak itu, Epy aktif di berbagai sanggar teater seperti Pantomim Sena Didi dan Theater Aristokrat. Selanjutnya, selain bermain teater, pemeran Kang Muslihat (Kang Mus) dalam "Preman Pensiun" ini aktif bermain di layar kaca dan layar lebar.

Pria yang pernah divonis sakit kanker otak dan kemudian sembuh ini juga turut bermain dalam beberapa film, antara lain "Maskot" (2006) sebagai Sapari, serta dalam film "I Love You, Om". Ia pernah beperan menjadi tokoh Kang Dadang, satpam perumahan dalam sinetron komedi "Suami-suami Takut Istri".

Sinetron
- Asyiknya Geng Hijau
- Kejar Kusnadi
- Suami-suami Takut Istri
- Safa dan Marwah
- The Adventurres Of Suparman
- Si Cemong
- Preman Pensiun
- Stasiun Cinta

Filmografi
- Petualangan Sherina (2000)
- Maskot (2006)
- I Love You, Om (2007)
- Kamulah Satu-Satunya (2007)
- Get Married (2007)
- The Tarix Jabrix (2008)
- Takut: Faces of Fear (2008)
- Tri Mas Getir (2008)
- Si Jago Merah (2008)
- Takut: Faces of Fear (2008)
- Segmen Peeper
- Romeo Juliet (2009)
- Paku Kuntilanak (2009)
- I Love You Masbro (2012)
- Operation Wedding (2013)
- 9 Summers 10 Autumns (2013)
- Bangun Lagi D**g Lupus (2013)
- SLANK Nggak Ada Matinya (2013)
- V/H/S/2 (2013)
- Killers (2014)
- The Raid 2: Berandal (2014)
- Kamar 207 (2014)
- Mengejar Malam Pertama (2014)
- Aku, Kau & KUA (2014)
- Cermin Penari Jaipong (2014)
- Love and Faith (2015)

*(Abah) wisatabdg*com

Address

C 'jantung
Bandung
20237

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Preman Pensiun posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share